Bahasan Mengenai Shalat istisqa,



Pelaksanaan shalat istisqa alhamdulillah sudah di laksanakan bersama mudah-mudahan Allah mengabulkan doa kami, dengan segera menurunkan hujan khususnya wilayah kecamatan ciracap.
Pengertian Istisqa.
Istisqa berarti meminta hujan. Mengenai kata ini, ibnu mazhur menjelaskan, "kata istisqa" yang terdapat dalam hadist berarti meminta hujan. Maksudnya , meminta hujan untuk daerah yang gersang dan orang-orang yang membutuhkannya.
Namun dalam istilah ulama fiqih, maksud shalatistisqa"berarti meminta hujan kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk. Al-Jurjani menjelaskan, istisqa "berarti meminta hujan kepada Allah SWT saat terjadi kekeringan panjang.

Hukum shalat istisqa.
Hukum shalat istisqa adalah sunah muakad jika terjadi kekeringan yang sangat panjang. Mengenai hukum shalat istisqa ini, Ibnu Qudamah menjelaskan shalat istisqa hukumnya sunah muakad. hal ini sebagaimana yang berlaku dalam Sunah Nabi dan Khulafaur Rasyidin."
Ibnu abdil Barr menyebutkan,"para ulama sepakat bahwa keluar rumah untuk meminta hujan dengan berkumpul bersama-sama disuatu tanah lapang, kemudian berdoa dan menundukan diri kepada Allah SWT saat terjadi kekeringan yang sangat panjang, hukumnya sunah. Inilah sunnah rosulullah SAW, dan para ulama tiada yang membantahnya

Macam-macam istisqa (cara meminta hujan)
Ada beberapa cara untuk meminta hujan yaitu:
  1. Meminta hujan dengan cara mendirikan shalat, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti secara panjang lebar. adapun tatacara shalatnya, sudah cukup jelas sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW dan banyak terdapat dalam sejumlah hadits shahih. Mengenai cara yang pertama ini, para ulama menyepakatinya.
  2. Khatib shalat jum'at meminta hujan saat dia ditengah berkhutbah. Cara ini perna dilakukan Nabi SAW dan banyak riwayat yang menyebutkannya. meminta hujan dengan cara yang kedua ini hukumnya sunah dan sering dilakukan oleh kaum muslimin.
    • Anas bin malik menuturkan , pada masa Rosulullah SAW terjadi kekeringan yang cukup lama. Kemudian saat nabu berkhutbah Jum'at, Seorang arab badui berkata," Rosulullah harta kami telah ludes dan keluarga kami kelaparan. Karenanya doakannlah kami."Rosulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan  berdoa Artinya " Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkan lah hujan kepada kami, ya Allah turunkanlah hujan kepada kami" Ketika itu kami melihat dilangit ada mendung. Ketika mendung tersebut telah merata, hujanpun turun. Anas lalu berkata, "Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama sepekan"
  3. berdoa selepas shalat dan ditempat-tempat ibadah. mengenai cara meminta hujan dengan hanya berdoa tanpa shalat ini , para uama tidak ada yang mempermasalahkannya. 
Etika Istisqa
Etika meminta hujan itu banyak, diantaranya adalah:
  1. Berlindung kepada Allah dan melaksanakan shalat istisqa
    • Aisyah mengungkapkan bahwa para sahabat mengeluh kepada Nabi SAW tentang musim kemarau yang panjang. beliau lalu menyuruh untuk di buatkan mimbar dan diletakkan di tempat pelaksanaan shalat. Beliau menyuruh orang untuk keluar pada hari yang telah ditentukan di tempat tersebut. Kemudian ketika matahari telah nampak Rosulullah SAW keluar dan duduk diatas mimbar,bertakbir,memuji Allah , lalu bersabda "Kalian mengeluhkan musim kemarau yang menimpa kampung halaman kaliandan hujan yang terlambat datang. Karena itu Allah  telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkannya.(Kemudian nabi bersabda) Segala puji hanya milik Allah, Rabb Semesta Allam. (Dia) Yang Maha Pengasihbdan Maha Penyayang. Yang merajai pada hari pembalasan. tiada Tuhan selain Allah. Dia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Ya Allah Engkaulah Allah , tiada tuhan  Selain Engkau Yang Maha Kaya. Kamilah orang-orang yang fakir. Untuk itu turunkan hujan kepada kami; Jadikanlah (hujan) yang telah engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan dan perbekalanhingga waktu (ajal kami)."
    • Rosulullah SAW terus mengangkat tangan tinggi-tinggi hingga tampak warna putih dua ketiaknya. Beliau membelakangi jamaah, lalu membalikan letak selendang beliau sambil mengangkat tangan. KEmudian beliau baru menghadap mereka. Setelah turun beliau shalat dua rakaat. Lantas Allah SWT menampakan segumpal awan, sehingga terdengar suara petir dan terpancar sinar. ketika itulah turun hujan. Beliau tidak mendatangi masjid nabawi hingga akhirnya agak banjir. Saat rosulullah SAW melihat para sahabat berlarian kerumah masing-masing, beliaupun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Beliau lalu bersabda,"saya bersaksi bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. aku adalah hamba dan Rosul-Nya"
  2. Khatib menasehati jamaah untuk bertaqwa kepada Allah SWT
    • Selain itu khatib juga menganjurkan para jamaah untuk meninggalkan perbuatan dzalim,bertaubat dari perbuatan maksiyat, saling memaafkan, berpuasa , bersedekah dan tidak saling membenci. Sebab kemaksiatan merupakan penyebab terjadinya paceklik, sedang bertakwa kepada Allah SWT adalah sebab turunnya beragam keberkahan.
  3. Seorang imam menentukan waktu untuk berkumpul
    • Hal ini berdasarkan hadits Aisyah yang menuturkan , "Para sahabat pernah mengadu kepada rosulullah SAW tentang paceklik dan hujan yang terlambat turun. Beliau lalu memerintahkan untuk dibuat mimbar. Setelah mimbar diletakan di tempat shalat , alu beluau menentukan waktu kepada mereka untuk berkumpul ditempat tersebut..."
  4. Waktu yang tepat untuk shalat istisqa
    • Waktu yang paling utama untuk shalat istisqa adalah waktu yang sesuai dengan pelaksanaan shalat "Id". Hal ini berdasarkan riwayat Aisyah yang menuturkan , "kemudian Rosulullah saw keluar ketika matahari telah nampak, lalu duduk diatas mimbar"
    • Shalat istisqa tidak memiliki waktu khusus, sehingga ia dapat dilaksanakan kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat. Mengenai ketentuan ini ulama sepakat. Karena waktunya lapang , sehingga tidak dibenarkan untuk melaksanakannya diwaktu terlarang tersebut. Waktu yang paling utama adalah sesuai dengan waktu pelaksanaan shalat "Id" karena kondisi dan tatacara shalat istisqa hampir sama dengannya. Namun waktu shalat istisqa tidak habis dengan tergelincirnya matahari. Sebab pelaksanan shalat istisqa tidak ditentukan oleh hari secara khusus, sehingga waktunyapun tidak tertentu.
    • Ibnu Abdil Barr menjelaskan , "Para ulama sepakat bahwa waktu untuk keluar melaksanakan shalat istisqa sama dengan waktu saat keluar untuk shalat "id".  Namun , Abu Bakar bin Muhammad bin amr bin Hazm berpendapat bahwa waktu shalat istisqa adalah saat matahari tergelincir.
  5. Shalat Istisqa dilaksanakan di tanah lapang
    • Tempat inilah yang paling utama . Sebab Nabi SAW melaksanakannya ditanah lapang sebagaimana shalat "Id". Aisyah menuturkan , "Para sahabat pernah mengadu kepada rosulullah SAW tentang paceklik dan hujan yang terlambat turun. Beliau lalu memerintahkan untuk dibuat mimbar. Setelah mimbar diletakan di tempat shalat , alu beluau menentukan waktu kepada mereka untuk berkumpul ditempat tersebut..."
    • Abdullah bin Zaid al-Mazini juga mengungkapkan,"Suatu kali Rosulullah SAW keluarmenuju tanah lapang untuk meminta hujan, lalu beliau menghadap kiblat. Beliau membelakangi para jamaah . Lalu beliau berdoa kepada Allah SWT dan membalikan selendangnya saat menghadap kiblat. Kemudian Rosulullah SAW melaksanakan shalat 2 rakaat dengan membaca surah al-Quran secara jahr."
  6. Seluruh jamaah keluar dengan sikap tawadhu,merasa hina, sangat khusyu
    • Cara ini sesuai dengan hadits riwayat Ibnu Abbas dari Ishaq bin Abdullah bin Kinanah yang mengatakan,"Saya diutus oleh al-Walid bin Uqbah -gubernur Madinah- untuk menemui ibnu abbas. Saya diminta untuk bertanya kepadanya tentang tata cara shalat istisqa yang dilakukanRosulullah SAW. Lalu Ibnu Abbas bertanya,'kenapa dia tidak bertanya langsung kepada saya?' Selanjutnya Ibnu Abbas mengungkapkan ,'rosulullah SAW keluar dengan sikap tawadhu'serta penuh khusyu'hingga beliau sampai ketanah lapang. Beliau tidak berkhutbah sebagaimana yang biasa kalian lakukan. Tetapi , beliau senantiasa berdoa, berendah diri, dan bertakbir kepada Allah SWT kemudian nabi SAW melaksanakan shalat dua rakaat sebagaimana dalam shalat 'Id'.
  7. Anak-anak dan wanita juga boleh ikut shalat istisqa
    • Ibnu Qudamah menjelaskan "Semua orang disunahkan untuk shalat istisqa. Apalagi, orang-orang yang punya utang, menutup aurat, mempunyai kepentingan, dan lanjut usia itu lebih disunahkan. Sebab, dengan begitu , doa mereka lebih cepat dikabulkan. Para wanita yang telah lanjut usia dan yang penampilannya kurang menarik boleh ikut shalat. Adapun para gadis dan wanita yang berpenampilan menarik tidak dianjurkan untuk ikut shalat. Sebab , ketika mereka ikut kemudharatan yang timbul itu lebih besar dari pada kemaslahatannya, Selai itu, membawa serta binatang ternak juga tidak dianjurkan . Sebab Nabi SAW tidak pernah melakukannya.
  8. Shalat istisqa tidak perlu adzan dan iqomah
    • Abu Ishaq menuturkan,"Suatu kali Abdullah bin Yazid al-Anshari keluar rumah bersama al-Barra bin Azib dan Zaid bin Arqam. Abdullah meminta hujan dan berdiri dihadapan mereka tanpa menggunakan mimbar. Lalu dia meminta hujan lagi. Kemudian melaksanakan shalat dua rakat dengan bacaan surah secara jahr. ketika itu Abdullah tidak mengumandangkan adzan dan iqamah."
    • Haritsah bin Mudhrib al-Abdi mengatakan "suatu kali kami keluar rumah menuju tanah lapang bersama Abu Musa. Ketika itu kami ingin meminta hujan lalu  shalat dua rakaat tanpa mengumandangkan adzan dan iqamah."
    • Ibnu Qudamah berkata "Dalam shalat istisqa itu tidak disunahkan adzan dan iqamah, dan kami tidak mengetahui apakah ada erbedaan pendapat didalamnya"
  9. Meminta hujan melalui doa orang saleh itu sunah
    • Anas bin Malik meriwayatkan,"Apabila terjadi paceklik sangat lama, Umar bin Khatab meminta hujan melalui doa abbas bin Abdul Muthalib. Umar bin Khatab berdoa,"Ya Allah , kami pernah meminta hujan kepada-Mu melalui pelantara Nabi Kami, Ketika itu, Engkaupun menurunkan hujan. Dan, sekarang kami juga meminta hujan kepada-Mu, tetapi lewat paman Nabi kami."Hujanpun kemudian turun.
    • Berdasarkan riwayat diatas kaum muslimin dan para pemimpin mereka boleh meminta hujan melalui doa orang-orang shaleh. Ibnu Qudamah berkata,"seorang pemimpin dianjurkan meminta hujan melalui doa orang yang shaleh. Sebab, Umar bin Khatab memintahujan melalui doa abbas, paman Nabi, Sementara itu, Muawiyah dan adh-Dhahak meminta hujan lewat perantara Yazid bin al-Aswad al-Jursyi,"
Cara shalat Istisqa

Cara shalat istisqa itu seperti shalat 'Id. Ketentuan ini berdasarkan riwayat hadist riwayat Ibnu Abbas yang menuturkan,"rosulullah SAW keluar secara tawadhu',pakaian yang sederhana,khusyu',berjalan perlahan, dan berendah diri hingga beliau mendatangi tanah lapang, beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kalian kalian saat ini , beliau senantiasa berdoa,berendah diri, dan bertakbir, kemudian beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat 'Id".

Hadits diatas menegaskan pendapat jumhur ulama bahwa pelaksanaan shaat istisqa itu seperti shalat 'Id, baik dalam bilangan rakaat , bacaan surah secara jahr, bilangan takbir, dan khutbahnya yang dilaksanakan selepas shalat. Hanya saja, tidak ada waktu khusus bagi shalat istisqa. Yang penting , shalat ini tidak dilaksanakan pada waktu yang terlarang untuk shalat. Inilah pendapat jumhur ulama.

Namun shalat Istisqa' itu akan lebih baik jika dilaksanakan pada waktu yang sama dengan pelaksanaan shalat 'id. ketentuan ini berdasarkan hadits riwayat Aisyah dan lainnya.




Sumber:Panduan Shalat shunah dan shalat khusus,Dr, Said penerbit Al Mahira